The Lion King (2019): Movie Review

Disney akan kembali merilis film remake live-action The Lion King pada 19 Juli 2019 di Amerika Serikat. Namun, film sudah tayang terlebih dahulu di bioskop-bioskop Indonesia pada 17 Juli kemarin. Banyak yang penasaran bagaimana film animasi legendaris ini dalam versi live-actionnya. Apakah Disney mampu membangkitkan nostalgia masa kecil ke penontonnya?

the-lion-king-2019
Poster Film The Lion King (Image by: BBC)

Sepanjang tahun 2019 sampai 2020 Disney akan sangat produktif meremake film-film legendarisnya. Mulai dari Aladdin yang rilis pada Mei kemarin, The Lion King pada bulan Juli ini, hingga Mulan yang akan rilis pada tahun 2020. Apakah Disney kehabisan ide atau memang hanya ingin mencari pundi-pundi dolar? Jawabannya adalah bagaimana kualitas film remake nanti yang akan dirilis.

The Lion King pertama kali dirilis pada tahun 1994 dan merupakan salah satu film animasi Disney paling sukses sepanjang masa. Film ini bershasil meraup 968 juta dolar di seluruh dunia. Jumlah yang sangat besar saat itu bahkan masih merupakan mencapaian yang luar biasa hingga saat ini. Remake The Lion King dipastikan akan melampaui film pendahulunya.

The Lion King: Para Cast Kelas A

The Lion King diisi oleh banyak bintang-bintang papan atas seperti Donald Glover (Simba), Beyoncé (Nala), Chiwetel Ejiofor (Scar), John Oliver (Zazu), John Kani (Rafiki), Seth Rogen (Pumbaa), Billy Eichner (Timon) dan tidak lupa James Earl Jones (Mufasa). Masuknya Beyoncé ke dalam jajaran cast menjadi daya tarik tersendiri film ini. Begitu juga dengan pengisi suara Mufasa tetap diisi oleh James Earl Jones seperti film aslinya. Masuknya kembali James Earl Jones memang tidak mengherankan karena suara beliaulah yang dirasa paling pas untuk memerankan tokoh Mufasa.

the-lion-king-cast-beyonce-donald-glover
Pemain The Lion King (Image by: Metro.co.uk)

Sesuatu yang paling menonjol dari film ini adalah bagaimana teknologi CGI yang mampu menghadirkan objek yang begitu realistis. Semua tokoh hewan terlihat begitu nyata dan mempunyai detil gambar yang mengagumkan. Begitu juga sabana yang menjadi latar film ini seakan-akan memang direkam di Afrika. Kita akan melihat bagaimana perkembangan teknologi animasi yang begitu pesat jika dibandingkan dengan tahun 90-an. Penonton akan dibawa menjelajahi bentang savana Afrika seperti pada acara Animal Planet atau National Geographic.

Gambar The Lion King yang Sangat Realistis (Image by: Variety)

The Lion King: Alur Cerita yang Cepat (Spoiler Alert)

Alur film terasa cepat. Dimulai dari upacara perkenalan Simba yang memorable kepada seluruh rakyat hewan di Pride Rock. Ketika Mufasa telah tiada, Simba-lah yang akan menjadi raja selanjutnya. Lagu Circle of Life yang menjadi backsound menjadikan scene ini sebagai awal pembuka film yang manis. Kelahiran Simba rupanya tidak disukai oleh pamannya sendiri yaitu Scar. Scar sangat berambisi menjadi raja menggantikan Mufasa dan kini dihalangi keberadaan Simba.

Untuk melancarkan rencana jahatnya, Scar bersekongkol dengan para hyena untuk menyingkirkan Mufasa dan Simba. Simba dijebak di ngarai tempat kawanan Wildebesst sedang migrasi. Mengetahui Simba dalam bahaya, Mufasa akhirnya dengan segera ke ngarai untuk menyelamatkan anaknya. Simba berhasil diselamatkan. Namun, ketika Mufasa memanjat tebing ngarai, dia ditendang oleh Scar yang sudah siap menunggu di sana. Mufasa jatuh ke dasar ngarai dan diinjak-injak oleh kawanan Wildebesst yang sedang berlari kencang. Adegan tewasnya Mufasa dalam scene ini kelak menjadi ‘trauma’ sendiri bagi anak-anak 90an.

Mendapati ayahnya tak bergerak lagi, Simba tak bisa berbuat banyak. Scar menghampiri Simba dan meriakinya untuk berlari sejauh mungkin. Scar menuduh Simba sebagai penyebab kematian ayahanya. Jika saja Simba tidak bermain-main ke ngarai, tragedi ini tentu saja tidak akan terjadi. Simba diliputi rasa bersalah yang luar biasa.

The Lion King: Hakuna Matata

Pumbaa, seekor babi liar afrika dan Timon, seekor meerkat mendapati Simba dalam keadaan hampir dimangsa burung bangkai. Simba kemudian menceritakan tragedi yang menimpanya ke dua sahabat barunya itu. Tak ingin melihat Simba larut dalam kesedihan, Pumbaa dan Timon mencoba menghibur melalui lagu Hakuna Matata yang dalam film ini dinyanyikan secara epik oleh Seth Rogen dan Billy Eichner.

Simba tumbuh dewasa bersama Pumbaa dan Timon. Dia sudah melupakan tanah kelahirannya sendiri, Pride Lands.

Sampai pada akhirnya, Simba bertemu dengan teman masa kecilnya, Nala. Pertemuan ini menumbuhkan benih-benih cinta diantara mereka. Scene Simba dan Nala yang sedang jatuh dengan backsound lagu Can’t You Feel The Love Tonight menjadi sesuatu yang paling ditunggu di film Lion King. Nala menceritakan bagaimana keadaan Pride Lands saat ini yang penuh dengan kesengsaraan setelah Scar menjadi raja. Nala memohon kepada Simba untuk kembali ke Pride Lands merebut tahta raja dari Scar, namun Simba menolak karena sudah nyaman dengan kehidupan yang sekarang. Meski kecewa, Nala tidak mampu berbuat banyak.

Di tengah kebimbangan yang luar biasa, muncullah suara ayahnya dari langit, Mufasa. Mufasa kembali mengingatkan Simba akan takdirnya sebagai raja Pride Lands. Simba tersadar dan akhirnya kembali ke Pride Lands.

Melawan Scar bukanlah hal yang mudah. Apalagi Scar saat ini bersekutu dengan kumpulan hyena. Namun berkat kekompakan Simba, Nala, Pumbaa, dan Timon, Scar berhasil ditaklukan.

the-lion-king-simba-pumbaa-timon
Simba, Pumbaa, dan Timon bersahabat baik

The Lion King: Dibayang-bayangi Film Terdahulu

The Lion King mempunyai alur cerita yang tidak jauh berbeda dengan film pendahulunya.

The Lion King mendapat rating yang rendah pada awal perilisannya di IMDB dan Rotten Tomatoes. Yang memberi rating rendah menilai film ini tidak seharusnya dibuat. Film ini dalam versi live-action dirasa tidak mempunyai jiwa dan tanpa emosi. Hal ini wajar mengingat tidak mungkin memberi ekspresi berlebihan pada fisik hewan yang berwujud nyata. Disney seharusnya membiarkan The Lion King dalam versi klasiknya yang memang telah melegenda. Komentar ini ada benarnya karena versi remake suatu film tidak mungkin akan sebagus film pertamanya.

Yang memberi rating tinggi menilai film ini sudah memang selayaknya mendapatkannya. The Lion King menyajikan visual yang memanjakan mata. Disney mencoba membangkitkan kenangan masa kecil dengan remake The Lion King menggunakan teknologi CGI tercanggih yang ada saat ini. Mungkin saja film terasa agak ‘datar’, namun kehadiran Pumbaa dan Timoon melalui dialog-dialog jenaka mereka, sangat mampu mempermanis film ini. Harus diakui remake The Lion King kurang terasa emosional meskipun telah menggunakan teknologi canggih dan cast papan atas. Film pertama The Lion King memang tidak akan tergantikan, namun remake film ini juga tidak layak disebut gagal sama sekali. Disney terkenal dengan produksi filmnya yang sangat ‘rapi’. Remake The Lion King akan selau berada dalam bayang-bayang kesuksean predecessor-nya.

Membahas film musical, tidak lengkap rasanya jika tidak membahas score yang digunakan. Hans Zimmer dan Elton John dipercaya kembali untuk meramu musik yang digunakan. Mereka didaulat kembali agar lagu ikonik Circle of Life ataupun Can’t You Feel The Love Tonight tidak kehilangan daya magisnya. Tidak mau ketinggalan, Beyoncé juga ikut menyumbangkan suara emasnya dalam lagu bertajuk Spirit. Secara keseluruhan score lagu ini sangat kental dengan unsur musik etnik Afrika. Score The Lion King menjadi terdengar sangat fresh karena pastinya sudah diaransemen ulang.

The Lion King: Is it worth your money?

Bagus tidaknya sebuah film dikembalikan lagi ke penontonnya. Jika dirasa sudah cukup menyaksikan film aslinya, maka tidak perlu repot-repot ke bioskop menyaksikan versi remake-nya. Namun jika ingin bernostalgia masa kecil, remake The Lion King sangat worth it untuk disaksikan. Visual yang luar biasa cantik serta dialog-dialog kocak Pumbaa dan Timon akan menjadi tayangan menghibur di akhir pekan.