NET TV Dikabarkan PHK Massal, Ciri Berakhirnya Media Konvensional?

Netizen dalam beberapa hari terakhir dihebohkan dengan berita PHK massal yang dialami oleh karyawan NET. Hal ini disinyalir disebabkan oleh memburuknya kondisi keuangan stasiun televisi tersebut sehingga harus melakukan efisiensi karyawan. Kabar ini santer di berbagai media meskipun dibantah secara halus oleh Wishnutama, Komisaris Utama NET.

net-tv-indonesia-choice-awards
Ajang Perhargaan Indonesian Choice Awards yang Disiarkan oleh NET TV

NET pertama kali mengudara pada 26 Mei 2013 dengan mengusung konsep News dan Entertainment. Di sini NET mencoba menawarkan tayangan yang lebih fresh dan modern seperti tagline nya kala itu “Televisi Masa Kini”. Peluncuran stasiun televisi ini pun pada 2013 terasa sangat berkelas karena mengundang musisi internasional seperti Carly Rae Jepsen dan Taio Cruz.

Di bawah tangan dingin Wishnutama, NET berhasil menyuguhkan tayangan yang berkualitas serta minim gimmick dan sensasi. Seperti contohnya acara berita tentang selebritas, Entertainment News, yang pengemasannya lebih netral. Begitu juga dengan acara lain seperti Indonesia Morning Show, Ini TalkShow, Tonight Show, Breakout, Tetangga Masa Gitu, dan Sarah Sechan yang konsep acaranya ‘dibungkus’ secara elegan.

Wishnutama memang mempunyai peran vital pada awal berdirinya NET. Dengan pengalamannya bertahun-tahun di industri pertelevisian, tidak butuh waktu lama baginya untuk membangun NET agar sejajar dengan stasiun televisi nasional lainnya. NET banyak mendapat pujian dari masyarakat sebagai televisi yang cukup revolusioner di tengah gempuran program-program televisi yang dianggap kurang mendidik.

Wishnutama, Mantan CEO NET

Pada ulang tahun pertama televisi ini, NET menganugerahkan perhargaan Indonesia Choice Awards (ICA) sebagai apresiasi kepada insan yang bekerja di industri hiburan Indonesia. ICA secara konsisten digelar tiap tahun hingga 2018. Dalam produksi ICA, NET tidak mau tanggung-tanggung. Hal dibuktikan dengan didatangannya musisi internasional dalam setiap edisi ICA seperti Demi Lovato, Jessie J, Jonas Blue, Robin Thicke, David Craig dan lainnya.

Benarkah NET TV Melakukan PHK Massal?

Pada 9 Agustus 2019 kemarin terbitlah sebuah utas di Twitter dari akun @Strategi_Bisnis. Isinya adalah tentang PHK massal karyawan NET.

Cuitan tersebut mengundang reaksi yang beragam dari netizen. Kebanyakan menyayangkan nasib yang dialami oleh stasiun televisi ini. Berikut adalah komentar netizen mengenai PHK massal yang dialami oleh NET.

Tak mau ketinggalan, produser televisi kawakan, Indra Yudhistira, ikut berkomentar dalam cuitannya.

Ketika dikonfirmasi tentang kebenaran berita ini, Chief Operating Officer NET, Azuan Syahril menjawab dengan diplomatis. Azuan membenarkan akan terjadi efisiensi sumber daya manusia namun bukan PHK massal, seperti dilansir dari Kompas.

“Kami malah memberi penawaran kepada karyawan yang berniat mengundurkan diri. Kami akan beri benefit untuk mereka,”

Azuan Syahril, COO NET


Banyak yang menduga inti dari permasalahan yang dialami adalah gagalnya NET menghasilkan uang. Program NET memang berkualitas namun gagal menjaring pemirsa. Singkat kata, rating jeblok. Hal ini tentu akan membuat perusahaan berpikir dua kali untuk mengiklankan produknya di NET. Awalnya, NET berusaha menyasar segmen market anak muda dan keluarga. Namun dalam perjalanannya usaha ini tidak membuahkan hasil karena segmen tersebut telah berpindah platform dari televisi konvensional ke media digital seperti Netflix dan Youtube.

Berdasarkan satu sumber acak yang diambil oleh penulis, rating NET memang kalah telak dari stasiun TV lainnya. Berikut adalah rating acara televisi pada 8 Agustus 2019.

View this post on Instagram

Daily TV Program Kamis (08/08)

A post shared by Official Dunia TV (@dunia_tv) on

Berdasarkan data di atas acara TV berjenis sinetron perkasa di peringkat teratas, disusul acara olahraga, variety show, dan talkshow. Tidak satupun acara NET masuk ke dalam 37 program acara teratas. SCTV, Indosiar (IVM), dan RCTI merupakan stasiun TV yang merebut ‘kue’ terbanyak. Hal ini semakin menegaskan NET tertatih-tatih bersaing dengan stasiun TV lain untuk merebut pangsa pasar. Data ini juga secara tidak langsung menunjukan demografi pemirsa televisi Indonesia yang masih menggemari sinetron.

Dibandingkan dengan stasiun TV lain, NET memang beda. NET tidak menayangkan sinetron seperti stasiun TV lain. Padahal acara ini mendapatkan perhatian yang tinggi dari pemirsa.

Menurut komunitas jaringan siaran, Bayu Wardhana, pemirsa televisi Indonesia dikuasai penonton kelas B dan C. Kelas penonton ini menyukai tayangan bermutu rendah seperti sinetron. Hal ini diantisipasi oleh pihak stasiun televisi dengan menayangkan sinetron pada jam prime time. Berbeda dengan penonton kelas A yang memilih saluran televisi berbayar yang kontenya tidak hanya menghibur namun juga edukatif.

NET berada di ujung tanduk. Tetap bertahan pada idealisme semula dengan menghadirkan konten berkualitas dengan risiko tidak menghasilkan profit atau menggadaikan idealisme dengan mengikuti selera pasar Indonesia demi pundi-pundi rupiah? Segmen pasar kelas menengah ke atas disinyalir tidak lagi menggemari televisi tradisional yang selama ini menjadi sasaran NET.

NET bukannya tidak fleksibel dengan perkembangan teknologi. Mengantisipai era digital, NET juga telah merambah layanan TV berbayar seperti Firstmedia, Indovision untuk pemirsa kelas menengah yang bergaya hidup modern. Namun, lagi-lagi NET menghadapi perlawanan sengit dari layanan streaming seperti Netflix yang juga menargetkan segmen pasar yang sama. Dibandingkan dengan televisi konvensial, Netflix unggul karena menawarkan acara yang beragam hanya dalam satu plarform.

Di Amerika Serikat bahkan sudah terjadi ‘perang’ antara layanan televisi berbayar dengan layanan streaming seperti Netflix. Layanan televisi berbayar ‘babak belur’ dengan keunggulan Netflix yang dapat diakses dari beragam platform dari layar smartphone yang minimalis hingga smart TV di ruang tamu yang berlayar raksasa.

Anak Muda Tidak Lagi Suka Nonton TV

anak-muda-televisi-smartphone-tablet
Anak Muda Beralih dari Televisi ke Smartphone

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ofcom, anak muda di Inggris tidak lagi gemar menonton televisi. Dalam waktu tahun 2010 sampai 2015, penonton televisi yang ada pada rentang usia 16 -24 tahun berkurang sebanyak 27%. Pada grafik di bawah bisa dilihat bahwa terjadi penurunan durasi dalam menonton televisi pada kategori anak-anak dan remaja. Durasi menonton televisi terlama pada kategori umur ini mencapai puncak terjadi pada tahun 2010. Namun setelah terjadi tren penurunan hingga kini.

Keberadaan smartphone disinyalir menjadi semakin tidak populernya televisi di kalangan remaja. Smartphone saat ini memang mempunyai fitur lengkap yang bisa mengakses banyak hal seperti media sosial, berita, menonton Youtube, dan banyak hal lainnya.

Terjadi Penurunan Tren Durasi Menonton Televisi pada Kategori Anak-Anak dan Remaja. Source: Ofcom

Hal serupa juga terjadi di Amerika Serikat di mana anak remajanya lebih suka menatap layar smartphone mereka daripada televisi.

Durasi Menonton Televisi Remaja AS dari Tahun ke Tahun (Source: Forbes)

Dari tahun ke tahun remaja di Amerika Serikat semakin sebentar menghabiskan waktu di depan televisi. Pada kuartal pertama tahun 2011 remaja di Amerika Serikat rata-rata menghabiskan sekitar 26 menit di depan televisi mereka. Durasi menonton televisi ini terus merosot hingga 14 menit pada kuartal yang sama di tahun 2017. Terjadi penyusutan sebanyak 40% durasi menonton selama rentang tahun tersebut.

Hal ini semakin dipertegas oleh survei yang dilakukan Nielsen, di mana anak muda kini beralih ke smartphone dan tablet dibandingkan televisi.

Fenomena kabar kurang menggembirakan yang terjadi pada industri televisi saat hanya akan menjadi bom waktu yang dalam ‘meledak’ kapanpun. Bagaimana pun telah terjadi pergeseran kebiasaan bagaimana masyarakat kita mengonsumsi hiburan saat ini.