Nyepi Segara, Saatnya Laut Beristirahat

Nyepi adalah hari dimana masyarakat Hindu Indonesia beristirahat dalam hening selama 24 jam penuh. Catur Brata Penyepian-pun dilakukan dengan tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian dan tidak bersenang-senang. Saat itu, Pulau Bali benar-benar sunyi dan hening. Bahkan jutaan bintang nampak dengan jelas berhamburan di langit akibat tidak adanya polusi cahaya.

Namun ternyata, Nyepi memiliki versi lain yang lebih spesifik, khusus untuk di laut saja. Masyarakat Bali menyebutnya Nyepi Segara, atau Nyepi Laut.

Pernah Mendengar tentang Nyepi Segara?

Nyepi Segara mungkin masih terdengar asing di telinga Anda. Bahkan bisa jadi tidak semua masyarakat Bali familiar dengan istilah Nyepi Segara. Nyepi Segara secara umum hampir sama dengan Nyepi pada umumnya. Seluruh aktivitas ditiadakan selama 24 jam penuh dari pukul 6 pagi sampai pukul 6 pagi keesokan harinya, namun khusus untuk kegiatan laut saja.

Tidak semua wilayah pesisir di Bali memperingati Nyepi Segara. Nyepi Segara utamanya diperingati oleh masyarakat Nusa Penida sebagai wujud penghormatan kepada Dewa Baruna. Beliau diyakini sebagai penguasa lautan menurut mitologi Hindu. Mengutip penelitian Adnyani dkk pada tahun 2014, Nyepi Segara telah menjadi warisan turun temurun sejak masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong pada tahun 1600.

Nyepi Segara tahun 2019

Nyepi Segara merupakan salah satu ritual keagamaan yang cukup besar di Nusa Penida. Sehari sebelum dilaksanakannya Nyepi Segara, masyarakat Nusa Penida melakukan upacara yang disebut upacara ‘Ngusaba’ dimana pada tahun 2019 ini Ngusaba dilaksanakan pada Purnama Kaapat, 13 Oktober 2019.

Menurut Penuturan Sukarta, panitia karya Ngusaba “Upacara ini bisa diartikan sebagai pemahayu jagat sehingga bernama karya Ngusaba Penyejeg Jagat Nusa Penida, supaya tetap ajeg jagat Nusa Penida ini”

Upacara Ngusaba di Nusa Penida. Foto oleh Nusa Penida Destinations

Pelaksanaan upacara Ngusaba di Nusa Penida setiap tahunnya dipusatkan di tempat yang berbeda. Ngusaba dilaksanakan secara bergilir di 2 pura di Nusa Penida yaitu Pura Penataran Ped pada tahu ganjil dan Pura Batumedau pada tahun genap. Tahun ini, Pura Penataran Ped menjadi pusat upacara Ngusaba.

Tari Rejang saat upacara Ngusaba 13 Oktober 2019. Foto oleh
Nusa Penida Destinations

Menyelaraskan Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan

Nusa Penida dengan kekayaan alam bawah lautnya kini telah belindung di bawah Kawasan Konservasi Perairan (KKP). KKP Nusa Penida merupakan salah satu KKP yang terbilang unik karena memadukan kearifan lokal setempat di dalam rencana zonasinya. KKP Nusa Penida memiliki satu zona yang disebut sebagai zona suci seluas 46.71 hektar dengan Pura Penataran Ped sebagai pusatnya. Pada area suci ini, kegiatan penangkapan ikan sama sekali tidak boleh dilakukan, hanya sebatas kegiatan rehabilitasi, pengambilan gambar dan patroli yang diijinkan di wilayah ini.