Orange Economy: Ekonomi Kota Masa Depan

Ekonomi oranye atau orange economy bisa jadi sudah tidak asing di telinga milenial. Orange economy atau lebih umum disebut ekonomi kreatif merupakan salah satu sektor ekonomi yang akhir-akhir ini mendapat perhatian khusus di Indonesia. Terlebih, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang memiliki badan khusus untuk menaungi ekonomi kreatif.

Batik sebagai salah satu ekonomi kreatif. Foto : Arif Santoso/unsplash

Indonesia juga menjadi negara pertama yang menyelenggarakan konferensi ekonomi kreatif tingkat dunia (World Conference on Creative Economy) bulan November silam. Melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), sektor ekonomi kreatif di Indonesia dikembangkan sejak tahun 2015. Padahal sebelumnya, ekonomi kreatif berada di bawah naungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Asal Muasal Ekonomi Kreatif

Berdasarkan sejarahnya, kegiatan ekonomi di dunia mengalami perkembangan yang sangat pesat pasca terjadinya revolusi industri. Pada masa sebelum revolusi industri, perekonomian hanya didominansi oleh ekonomi pertanian, namun revolusi industri mampu mengubah kegiatan ekonomi menjadi industri barang modal.

Mengutip indormasi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pada tahun 1950-an perekonomian mulai mengandalkan pengetahuan sebagai sumber daya utama sehingga memberikan nilai tambah. Kemudian pada perkembangan ekonomi yang diikuti oleh perkembangan teknologi informasi memunculkan ekonomi kreatif atau menurut Howkins disebut sebagai ekonomi gelombang keempat.

Creative Economy. Foto:Bappeda Jabar

Howkins menyatakan bahwa ekonomi kreatif merupakan jenis ekonomi pertama yang dapat mengatur apa yang orang-orang ingin lakukan dan hasilkan melalui imajinasi dan kreativitas.

Ekonomi Kreatif di Indonesia

Kontribusi sektor ekonomi kreatif di Indonesia saat ini bisa terbilang cukup tinggi. Mengutip data dari Bekraf pada tahun 2017, ekonomi kreatif mampu berkontribusi sebesar 7,44% pada Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional atau sekitar Rp. 922,59 Triliun.

Potret Ekonomi Kreatif di Indonesia. Foto : Bekraf

Jika dilihat dari serapan tenaga kerjanya, ekonomi kreatif pada tahun 2016 mampu menyerap 16,91 juta orang atau meningkat 5,95% dari tahun sebelumnya. Serapan tenaga kerja ekonomi kreatif juga merupakan yang tertinggi keempat di Indonesia. Bahkan, angka pertumbuhan tenaga kerja dari sektor ekonomi kreatif lebih tinggi daripada pertumbuhan tenaga kerja nasional. Serapan tenaga kerja yang cukup tinggi ini dapat dikatakan sebagai salah satu poin tambahan bagi ekonomi kreatif sebagai ekonomi inklusif.

Sebaran Ekonomi Kreatif di Indonesia. Foto: Bekraf

Namun, jika dilihat dari sebarannya, sektor ekonomi masih terpusat di Pulau Jawa.

Mengenal Lebih Jauh si Orange Economy

Secara definisi, menurut RUU Ekonomi Kreatif “Ekonomi Kreatif adalah perwujudan nilai tambah dari suatu hak kekayaan intelektual yang lahir dari kreativitas manusia, berbasis ilmu pengetahuan, warisan budaya, dan teknologi”. Berdasarkan pengertian di atas, terlihat bahwa sebenarnya ekonomi kreatif memiliki kekuatan utama pada kreativitas, pengetahuan, budaya dan teknologi. Buah dari kreativitas akan menghasilkan inovasi-inovasi sehingga menjadikan produk-produk ekonomi memiliki keunikan khusus.

Inovasi, sesuai dengan persamaan resiliensi (ketangguhan) berbanding lurus dengan tingkat ketangguhan. Semakin tinggi tingkat inovasinya maka akan semakin tinggi pula tingkat ketangguhannya. Oleh karena itu, ekonomi kreatif dapat menjadi sektor ekonomi yang tangguh secara berkelanjutan karena adanya poin inovasi yang akan terus berkembang. Maka tidak ayal, ekonomi kreatif diprediksi akan menjadi sektor berjaya di masa depan.

Apa Saja yang Termasuk Ekonomi Kreatif?

16 subsektor ekonomi kreatif di Indonesia. Foto:Bekraf

Ekonomi kreatif yang terdiri dari 16 sub-sektor. Menurut Bekraf, sektor-sektor ekonomi kreatif yaitu kuliner, fashion, kriya, televisi dan radio, penerbitan, arsitektur, aplikasi dan game developer, periklanan, musik, fotografi, seni pertunjukan, desain produk, seni rupa, desain interior, film , desain komunikasi visual.

Sektor ekonomi kreatif Indonesia yang berkembang hingga ke kancah internasional antara lain adalah fashion, dan kriya. Nama Kota Bandung (sub-sektor fashion) dan Kota Pekalongan (sub-sektor kriya) tercatat sebagai kota kreatif dunia menurut UNESCO.

Kota Kreatif di Indonesia

Kota Bandung merupakan salah satu kota yang sangat populer di Indonesia bahkan sering disebut sebagai kota kreatif. Aspek kreatif dari Kota Bandung juga terlihat dari sisi ekonomi di mana kekuatan ekonomi terbesarnya pada sub-sektor fashion. Sub-sektor fashion di Kota Bandung dapat dikatakan yang tertua di Indonesia. Perkembangan industri produk fashion di Bandung sudah dimulai sejak 1970-an berdasarkan data Bekraf. Perkembangannya menjadi semakin pesat sejak munculnya distro-distro pada tahun 2000-an.

Bandung Kota Fashion. Foto: Tabloid Peluang Usaha

Berdasarkan data Bekraf, pada tahun 2018, omzet dari sub-sektor fashion di Kota Bandung mecapai 3-5 triliyun per-tahunnya. Namun, sub-sektor fashion jika dilihat jadi jumlah usahanya berada pada posisi kedua setelah kuliner. Namun, sub-sektor fashion memiliki keunggulan dalam penyerapan tenaga kerja  yang tinggi dan dapat menjadi bahan baku atau pendukung sub-sektor ekonomi kreatif lainnya. Misal saja untuk mendukung sub-sektor fotografi. Saat memotret model, dibutuhkan pakaian yang baik dan sesuai, sehingga produk dari sub-sektor fashion akan memberikan nilai tambah bagi sub-sektor fotografi.

Ekonomi Kreatif dan City Branding

Batik. Foto: CNN Indonesia

Ekonomi kreatif juga secara tidak langsung dapat membentuk citra atau branding dari suatu kota. Branding dapat meningatkan daya tarik dari suatu tempat. Misal saja, Kota Pekalongan sebagai produsen kain batik. Ia mudah diingat sebagai kota batik sehingga ketika orang mengingat batik, maka akan langsung tertuju pada Kota Pekalongan. Selain itu, perkembangan sektor arsitektur juga dapat membawa citra positif bagi suatu kota. Kemunculan gaya arsitektur yang khas dapat menjadi landmark yang melekat di pemikiran masyarakat maupun wisatawan. Branding sedemikian dapat meningkatkan ketertarikan dari masyarakat luar untuk berkunjung ke suatu kota sehingga juga akan berdampak pada perkembangan sektor pariwisata.

Ekonomi Kreatif : Ekonomi Masa Depan?

Ekonomi kreatif merupakan sektor yang tidak terbatas, karena kemunculannya didasari oleh imajinasi dan kreativitas yang tidak memiliki batas. Ekonomi kreatif berpeluang untuk menghidupi seluruh kalangan tanpa terkecuali, melalui inklusivitasnya. Ekonomi kreatif akan menjadi harapan ekonomi di masa depan karena ketangguhan dan keberlanjutannya. Terakhir, bukan hanya sekadar harapan,

“Ekonomi kreatif harus menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia”

Presiden Joko Widodo