Penjor Galungan, Perbedaannya Dulu dan Kini

Umat Hindu sedharma dalam beberapa jam akan merayakan hari raya Galungan. Berbagai pernak-pernik hari raya sudah disiapkan beberapa hari sebelumnya. Begitu juga dengan atribut penjor yang menjadi ciri khas hari raya Galungan.

penjor-galungan
Penjor Galungan (Image by MYUDISTIRA)

Pertumbuhan ekonomi yang pesat dalam beberapa dekade terakhir berefek pada naiknya standar hidup masyarakat. Semakin banyak kelas menengah baru yang muncul. Kelas menengah ini telah mampu memenuhi kebutuhan fisiologisnya. Sesuai dengan teori hierarki kebutuhan Maslow, yang mengatakan setelah individu memuaskan kebutuhan pada tingkat paling bawah, individu akan memuaskan kebutuhan pada tingkat berikutnya. Salah satu tingkatan kebutuhan tersebut adalah kebutuhan akan penghargaan. Namun pada kenyataannya, bila ada yang “melanggar” hukum Maslow ini dengan melompati beberapa tingkatan sekaligus untuk menuju puncak, maka hasilnya banyak yang akan terpeleset. Sederhananya adalah ada orang dengan pendapatan kelas menengah, namun bergaya hidup mewah demi prestise atau pengakuan dari orang lain.

Banyak contoh dari paparan di atas jika dikaitkan dengan budaya generik dan budaya diferensial. Budaya generik merupakan budaya yang diwariskan begitu saja, sedangkan budaya diferensial adalah kebudayaan yang bersifat dinamis memungkinkan kebudayaan-kebudayaan lain masuk ke dalamnya. Kebudayaan bangsa Indonesia yang sangat kaya kini mulai banyak mengalami pergeresan makna karena perkembangan zaman. Banyak dari tradisi Indonesia yang dikurangi pelaksanaannya atau malah mengalami pendangkalan makna. Tradisi dibuat sedemikian rupa untuk dijadikan alat memuaskan hasrat untuk pamer. Tradisi sendiri merupakan budaya yang telah diwariskan turun temurun.

Konsisten Melestarikan Budaya

Bali dikenal sebagai daerah yang masih konsisten melestarikan kebudayaan tradisionalnya jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Hal ini tidak bisa dipungkiri, karena agama Hindu dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling mendukung dan tidak bisa dipisahkan. Jika kita membicarakan agama Hindu di Bali maka kita juga akan membahas kebudayaannya.

penjor-galungan
Penjor Galungan (Image by Bali Express)

Agama Hindu terdiri dari tiga kerangka pokok yaitu Tattwa (Filsafat), Susila (Etika), dan Upakara (Ritual). Bagian ketiga yaitu upakara inilah yang paling banyak mendapat porsi dalam pelaksanaan agama Hindu di Bali. Upakara atau selanjutnya kita sebut Yadnya merupakan korban suci tulus ikhlas yang dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai wujud sraddha bhakti sebagai umat Hindu. Yang perlu digarisbawahi dari Yadnya ini adalah pelaksanaannya dengan niat yang suci tulus ikhlas, sesuai kemampuan umat, tidak berlebih-lebihan, serta paham tujuan beryadnya tersebut.

Namun kini yadnya di Bali telah banyak mengalami pergeseran makna. Umat Hindu tidak paham apa maksud dari upakara yang mereka persembahkan. Selain itu, pelaksanaan yadnya juga kental sebagai ajang untuk menunjukan kelas sosialnya. Umat berlomba-lomba melaksanakan yadnya yang besar meskipun sebenarnya mereka bukan orang yang berada. Hal ini semata-mata bukan bentuk rasa syukur kepada Tuhan namun agar tidak kalah saing dengan tetangga sekitarnya. Ini adalah pemahaman yang keliru karena pengertian yadnya itu sendiri adalah korban suci tulus ikhlas. Jika orang yang beryadnya ingin dianggap kaya atau ingin dipandang memiliki status sosial tinggi maka yadnya tersebut akan menjadi percuma. Sebenarnya sah-sah saja menggelar Yadnya yang besar bila orang yang melaksanakannya benar-benar mencukupi secara materi.

Yadnya sendiri dibagai ke dalam tiga tingkatan yaitu Utama, Madya, dan Nista. Utama merupakan tingkatan paling tinggi sedangkan Nista paling rendah. Hal ini menunjukan bahwa agama Hindu sangat fleksibel dalam pelaksanaannya. Jika keadaan ekonomi tidak memungkinkan maka yadnya dalam tingkatan nista adalah sah asalkan didasari hati yang suci dan tulus ikhlas.

Tradisi Membuat Penjor

Yadnya sendiri dibagai ke dalam tiga tingkatan yaitu Utama, Madya, dan Nista. Utama merupakan tingkatan paling tinggi sedangkan Nista paling rendah. Hal ini menunjukan bahwa agama Hindu sangat fleksibel dalam pelaksanaannya. Jika keadaan ekonomi tidak memungkinkan maka yadnya dalam tingkatan nista adalah sah asalkan didasari hati yang suci dan tulus ikhlas.

Penjor di Sisi Jalan Raya (Image by Vokamo)

Salah satu kebudayaan yang telah bergeser maknanya adalah dalam tradisi membuat penjor menjelang hari raya Galungan. Penjor merupakan sarana upacara yang terbuat dari bambu yang melengkung ujungnya. Penjor ditancapkan sehari sebelum Hari Raya Galungan di sebelah kanan pintu gerbang rumah.

Sebagai bagian dari upakara penjor merupakan sesuatu yang sakral atau dengan kata lain harus mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku dalam sastra agama Hindu. Setiap bagian dari penjor mempunyai simbol-simbol tertentu. Ketika penjor sudah menyimpang dari sastra maka penjor telah kehilangan taksu atau kesakralannya. Apalagi ketika pembuatan penjor didasari atas keinginan berkompetisi mewah-mewahan dengan tetangga, maka upakara yang dipesembahkan tidak ada artinya.

Penjor tahun 1990-an sangat sederhana. Bahan-bahan yang digunakan merupakan bahan-bahan dari lingkungan sekitar yang mudah didapat seperti bambu, janur, berbagai hasil bumi, kelapa, dan daun-dauan. Masyarakat akan membuat sendiri berbagai ornamen penjornya. Hal ini mungkin dapat dimaklumi karena saat itu masih banyak warga yang punya kebun serta pekerjaan sehari-hari yang tidak banyak menyita waktu.

Penjor merupakan simbol dari naga basuki yang bermakna kesejahteraan dan kemakmuran. Unsur-unsur penjor menurut sastra terdiri dari bambu sebagai simbol gunung, plawa (dedaunan), palawija (biji-bijian seperti padi dan jagung), palabungkah (umbi-umbian), palagantung (kelapa, pisang), senganan (jajanan tradisional Bali), tebu, janur, kain putih, uang kepeng, sanggah ardha candra simbol dari ongkara, dan sampiyan. Gunung masyarakat Bali dianggap sebagai sumber kehidupan karena dari sanalah air berasal. Maksud dari pemasangan berbagai hasil bumi di atas adalah sebagai wujud rasa syukur umat karena telah diberi kelimpahan pangan selama enam bulan tersebut.

Penjor: Dulu dan Kini

Kini unsur-unsur tersebut mulai banyak dilupakan. Penjor modern lebih banyak menonjolkan unsur-unsur yang tidak ada dalam sastra agama Hindu. Misalnya saja ada yang menggunakan lampion atau beludru yang digunakan untuk membungkus bambu. Bahkan ada yang memasang sebuah patung naga, garuda, angsa, atau ogoh-ogoh. Contoh lain adalah penggunaan bulu prasok sebagai pengganti gerabah. Ini adalah pemahaman yang keliru. Meskipun penjor adalah simbol dari naga basuki namun bukan berarti menggunakan hiasan yang berkaitan dengan naga. Begitu juga dengan penggunaan palabungkah dan janur mulai ditinggalkan. Penggunaan janur pada penjor kini mulai digantikan oleh daun rontal/enau. Dahulu, sampiyan penjor yang terbuat dari janur dan dibuat sendiri. Dibandingkan dengan sekarang, sampiyan berbahan daun rontal dan banyak masyarakat yang membeli sampiyan sudah dijual di pasaran.

penjor-galungan
Umat Mempersiapkan Penjor (Image by Tribun Bali)

Sampiyan merupakan sebuah rangkaian janur yang dipasang pada ujung penjor. Bukan hanya sampiyan saja, namun hampir semua ornamen yang digunakan adalah dengan membeli yang sudah jadi di pasaran dengan harga yang tidak murah.

Penjor masa kini lebih menonjolkan keindahan daripada makna filosofisnya. Masyarakat cenderung lebih fokus dengan ornamen yang akan dipasang pada penjornya agar terlihat paling menonjol. Masyarakat berlomba-lomba membuat penjor semegah mungkin. Penggunaan lampion, beludru, gerabah, daun rontal semakin digandrungi. Bahkan tak jarang warga mengerjakan penjor tersebut dari jauh hari sebelum hari raya Galungan. Biaya untuk pembuatan penjor masa kini bisa mencapai satu juta rupiah. Sebuah angka yang fantastis untuk sebuah penjor jika dibandingkan dengan penjor tempo dulu. Sebagian warga mengaku bahwa jika penjornya bagus dapat memberikan kepuasan tersendiri. Melihat fakta tersebut maka dapat dikatakan bahwa masyarakat sangat antusias membuat penjor.

Fenomena Penjor yang Glamor

Saking makin menjamurnya penjor yang megah seperti ini hingga memunculkan istilah penjor menor atau ada juga yang menyebut penjor yang jor-joran. Jor-joran di sini maksudnya adalah menggelontorkan dana untuk penjor secara berlebihan. Penjor menor ini banyak dijumpai di Kota Denpasar, Badung, serta Gianyar yang taraf ekonominya sudah mapan. Di jalan-jalan sepanjang daerah ini mata akan dimanjakan dengan penjor-penjor yang indah. Hal ini adalah buah dari pesatnya industri pariwisata di daerah ini. Penjor telah berevolusi melunturkan nilai-nilai terdahulu yang penuh filosofi. Beryadnya tidak hanya sebagai bentuk rasa sraddha bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa namun juga sebagai ajang untuk memuaskan hasrat untuk membuat suatu karya seni. Tidak berhenti sampai di sana, penjor sering dicirikan sebagai status sosial seseorang di masyarakat. Semakin menor penjornya maka tinggi pula tingkat ekonomi pemilik penjor tersebut.

Penjual Hiasan Penjor (Image by Tribun Bali)

Fenomena ini telah memunculkan standar baru di masyarakat bagaimana bentuk penjor yang baku. Misalnya gerabah, kain beludru, lampion, gelungan, sebagian besar hiasan menggunakan daun rontal adalah ornamen wajib penjor masa kini. Tidak hanya semakin meriah, namun juga memunculkan bentuk, jenis, ukuran ornamen penjor yang jumlah variasinya semakin tak terbendung. Masyarakat semakin terpacu kreatifitasnya agar menghasilkan penjor yang megah. Semua berlindung di balik nama kreatifitas. Dikhawatirkan jika kreatifitas ini sudah kebablasan, nantinya ornamen penjor ini semakin menyimpang dari sastra sehingga masyarakat Hindu seakan-akan kehilangan identitasnya. Lebih parahnya lagi jika umat sudah melupakan unsur-unsur penjor yang terdapat dalam sastra demi menghasilkan penjor yang artistik. Alhasil yang terjadi adalah penjor yang menor namun mengalami mendangkalan makna. Penjor megah dari bentuk fisik namun kosong filosofi.

Enggannya generasi muda mempelajari warisan budaya nenek moyang mereka mengahasilkan produk kebudayaan yang asal jadi. Dalam hal ini, penjor dikhawatirkan semakin jauh dari nilai-nilai yang ada sampai menghilang sama sekali.

Penutup

Penjor zaman dahulu yang masih sarat dengan warisan nilai-nilai tradisional merupakan contoh budaya generik. Jika dilihat kembali penggunaan aneka hasil bumi pada penjor merupakan representasi dari gambaran kehidupan sosial budaya masyarakat kali itu yaitu berprofesi di bidang agraris. Sedangkan, penjor masa kini sebagai budaya diferensial telah banyak memasukkan unsur-unsur dari luar baik itu unsur yang sesuai maupun tidak. Penjor masa kini merupakan representasi budaya yang modern, dinamis, kreatif, materialis, dan glamor.